Selamat Datang Kembali dari Pengembaraanmu!

Suatu ketika seseorang bersikeras bahwa tidak selayaknya jas hitam dan dasi adalah satu-satunya tujuan di dalam pencapaian kehidupan. Namun, hal tersebut tidaklah serta-merta diterima dengan lapang dada, karena ternyata, memang jas dan dasi tersebut merupakan "measurement tool" atas diri seseorang di dalam kehidupan masyarakat kita dewasa ini. Setidaknya dengan jas dan dasi, dapat disebutlah seseorang yang dimaksud telah berada sejajar dengan kemajuan zaman dan pergaulan sosial yang lebih tinggi. Sehingga pada gilirannya menimbulkan perasaan senang dan bangga pada orang-orang yang berada di sekitarnya. Kita tidak akan merasa minder jika seseorang yang bersama kita adalah seseorang yang senantiasa mengenakan jas dan dasi sebagai "pakaian kebesarannya" sehari-hari, meskipun kita sendiri adalah masyarakat awam yang berpakaian sederhana saja. Beberapa pasang mata akan dengan mudah terpesona pada kepantasan luar biasa pada diri seseorang yang mengenakan jas hitam dan dasi.

Dengan gaya hidup luar biasa absurd di tengah-tengah masyarakat dunia ketiga yang menghidupi diri sendiri saja amburadul, pakaian jas hitam dan dasi adalah berlian yang sangat sulit dicari apalagi ditemukan. Namun, seperti juga ketidakmerataan pendapatan per kapita di negeri ini, jas dan dasi dapat ditemukan pada kota-kota besar tetapi tidak di desa-desa. Bukan perbincangan tentang pakaian, sebenarnya, jas dan dasi sangat mungkin mengubah pribadi dan karakter seseorang. Bagaimana hal ini dapat terlihat dan tampak begitu kentara adalah bahwa pengenaan jas dan dasi memiliki waktu dan tempat-tempat tertentu. Seperti juga acara-acara seremonial semua tingkatan sosial di dalam sebuah masyarakat, jas dan dasi adalah salah sebuah identitas resmi kaum aristokrat masa kini. Padahal di sisi lain, negeri ini memiliki ciri dan karakter sendiri di dalam membangun pencitraan diri melalui pakaian-pakaian yang lebih elegan tanpa adanya sedikitpun kesan primitif dan feodalisme. Beberapa dari kita mungkin telah merancang dan sedang membuat prototype jas dan dasi dengan cita rasa negeri sendiri. Dengan arahan tidak kehilangan jati diri karena mengenakan pakaian yang datang dari negeri asing, pakaian dan cara berpakaian anak-anak negeri diharapkan menjadi pribadi-pribadi yang kuat dan mampu bersaing tanpa tergerus nilai-nilai kearifannya sendiri yang telah terbangun semenjak lama.

Telah terlihat dengan jelas dan tak ada lagi kerahasiaan, bahwa orang-orang di kota-kota besar amat sangat rentan pada sebuah ideologi atau pandangan hidup yang secara massif beredar di sana. Rasionalitas dituntut untuk selalu dikedepankan dan segala perhitungan atas waktu menjadi sesuatu yang sangat mutlak dan tak dapat ditawar-tawar lagi. Dan, pakaian semisal jas dan dasi adalah buntut dari rasionalitas yang ditanamkan oleh orang-orang negeri asing selain penanaman modal dan investasi lain tentunya. Sikap permisif terhadap cara berpakaian dikhawatirkan menjadi awal sikap yang permisif tanpa filtering atas gaya hidup yang terbawa melalui pakaian tersebut. Sebab, mengubah ideologi seseorang memang seharusnya dilakukan secara sedikit demi sedikit, kontinu, kemudian memolesnya dengan anggapan bahwa hal tersebut sebagai sebuah kemajuan bersama atas masyarakat dunia yang lebih global. Dan pakaian adalah awal mula yang luar biasa mudah tetapi amat mematikan.

Pertanyaan yang seharusnya dijawab dengan segera adalah: apakah kemajuan dan kesetaraan dengan negeri asing tersebut harus dibayar dengan sikap dan tingkah laku kita yang dulunya begitu arif dan bijaksana, menjadi terlalu permisif dan mengiyakan segala gaya hidup yang jelas-jelas terlihat sangat tidak sesuai dengan pandangan kita selama ini? Entahlah, jawaban tersebut selayaknyalah dijawab dengan tindakan dan perbuatan yang mencerminkan kemandirian seorang anak bangsa yang tidak menginginkan adanya penjajahan lagi, terlebih penjajahan dalam hal ideologi dan pandangan hidup.

Wallahu'alam Wallahulmusta'an.
Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat
15 Juli 2009
Baca selanjutnya...

Surat Kepada Pemimpin Terpilih

Engkau telah mengatakan dengan benar bahwa sesungguhnya kejadian ini bukanlah seperti yang mereka persangkakan kepadamu. Aku pun menyadari bahwa sesungguhnya bukanlah semata-mata kemenangan itu yang menjadi tujuan kita, tetapi adalah sebuah proses yang menuju kepada sesuatu yang lebih mulia dan agung, itulah yang selama ini selalu menjadi cita-cita kita. Proses tersebut mengarah pada kenyataan bahwa kita memang benar-benar berjuang untuk sesuatu yang sangat pantas untuk diperjuangkan. Perjuangan untuk mempertahankan hak-hak paling azasi atas sejumlah besar manusia di negeri ini yang sedang kita saksikan terampas dengan semena-mena dan sayangnya tidak juga mereka sadari. Bila pun segala kesewenang-wenangan itu hadir di depan mata, maka tak ada jalan lain selain menghentikannya dengan segala daya upaya. Sekuat tenaga kita merelakan waktu, mengurangi tidur, mensedikitkan makanan ke dalam perut, adalah masih merupakan sejumput kecil usaha untuk sebuah proses yang sungguh sangat melelahkan ini.


Tindakan menyelamatkan orang banyak, sungguh tidak pernah terwujud dengan mudah. Setidaknya seseorang bahkan seringkali mengalami pengucilan yang luar biasa menyakitkan dari orang-orang yang hendak diselamatkannya. Aku tak hendak memberimu semangat agar kau terus-menerus berjuang demi orang banyak, aku hanya mencoba mengingatkanmu bahwa pada kenyataannya tidak pernah ada yang benar-benar berbuat demikian. Sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang bermanfaat dari apa yang dinamakan dengan perjuangan demi orang banyak, engkau harus selalu ingat bahwa seseorang sebenarnya tidak diperbolehkan berbuat demi orang banyak.

Seseorang sebenarnya haruslah selalu berbuat hanya demi Sang Khalik, namun, karena Sang Khalik memerintahkan para hamba-Nya untuk mampu mempertanggungjawabkan apa-apa yang telah dipimpinnya selama hidup di dunia, maka para hamba "memiliki cara tersendiri" agar mampu terselamatkan pada saat hamba tersebut bertemu dengan Sang Khalik. Itulah sebabnya mengapa ada sebagian hamba yang dengan sangat cerdas memanfaatkan kekuasaannya demi memperjuangkan orang banyak. Karena orang banyak tersebut akan menjadi saksi di hadapan Sang Khalik nanti, apakah ia telah diperlakukan dengan baik ataukah sebaliknya oleh pemimpinnya itu ketika di dunia. Yang pada akhirnya, akan meringankan ataukah malah memberatkan pertanggungan-jawab sang hamba yang menjadi pemimpin orang banyak tersebut dihadapan Sang Khalik. Di mana pada hari itu tidak akan ada alasan apapun yang dapat keluar dari mulut seorang hamba yang akan diterima oleh Sang Khalik selain dari perbuatan apa saja yang telah dilakukannya selama di dunia. Dan, proses pertanggungan-jawab seorang pemimpin sebagai hamba Sang Khalik adalah jauh lebih lama daripada orang banyak sebagai hamba.

Engkau tidak boleh takut ataupun ciut, jangan sekalipun lari sebagai pengecut, hatimu tidak boleh gentar, adalah biasa jika kemudian tubuhmu menjadi memar-memar. Seperti juga kebiasaan pemimpin-pemimpin besar yang selalu gigih dalam mengejar impiannya, engkau harus terus-menerus meneriakkan kebenaran di manapun engkau berada. Gunakan waktumu yang sungguh amat sangat singkat ini untuk meletakkan dasar-dasar kearifan di hati orang-orang banyak. Ajarkan kepada mereka pengetahuan tentang tanggung-jawab dan kedisiplinan serta keteguhan di dalam menjalankannya. Hindarkan orang banyak dari kebodohan yang membelenggu agar mereka senantiasa selalu mampu membedakan antara kebenaran dan kejahatan. Dan jangan sekali-kali engkau memanfaatkan kesetiaan mereka padamu demi kepentinganmu sendiri. Berhati-hatilah terhadap perasaan sombong dan angkuh yang akan senantiasa menyelimuti dirimu jika engkau lemah. Perasaan sombong tersebut acapkali tidak disadari karena datangnya bersamaan dengan sanjungan dan puji-pujian dari orang banyak. Engkau harus senantiasa menangis di kala sendirian pada malam hari atas kesalahan-kesalahan yang telah engkau lakukan, sebaliknya engkau harus senantiasa tersenyum dengan tulus di hadapan orang banyak pada siang hari agar mereka merasakan ketenangan ketika engkau berada di tengah-tengah mereka.

Di atas segalanya, merupakan sesuatu yang sangat penting untuk selalu diingat, bahwasanya aku, engkau dan semua orang banyak yang dimaksud, pada suatu saat nanti akan dikembalikan kepada Sang Khalik Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan, sebagaimana yang terjadi pada saat perjanjian kita dengan-Nya sebelum kita semua berada di dunia ini.

Wallahu'alam Wallahulmusta'an.
Jalan Bacang, Jatipadang, Jakarta Selatan.
08 Juli 2009


Baca selanjutnya...

About

muhadzis
Ever been very fond for outdoor activities, had been desperately in acting practices, had written poems, and had finished degree in medical physics ... today, honestly I just want to be a servant of the most loved by Allah 'Azza wa Jalla. Amen.
Lihat profil lengkapku

Twitter Updates

    follow me on Twitter