Menghargai Hidup

Menghargai hidup karena kematian itu sangatlah sakit
Ya, menghargai hidup, karena memang sebenarnya kematian adalah sesuatu yang sangat menyakitkan, secara fisis tentu saja. Begitu banyak didapati gambaran tentang kematian dari banyak manusia itu sendiri yang akan mengalami kematian dengan pasti. Organ-organ tubuh yang perlahan-lahan tidak lagi terasakan, nafas yang semakin lama semakin sesak, jantung yang diketahui dengan sadar sudah harus berhenti, belum lagi kesakitan seperti yang telah digambarkan oleh orang-orang sebelumnya, merupakan bukti yang nyata bahwa kematian itu memberikan rasa sakit yang luar biasa. Bukan semata filosofis atau bahkan analogis, kematian memang benar-benar merupakan sebuah berita atau informasi dari sistem syaraf manusia yang menyebutkan bahwa sistem itu sudah harus berhenti, dalam kurung, mati.

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, setiap manusia yang hidup pasti akan mengalami kematian, dan setiap manusia rupanya telah pula menyadarinya. Namun, sesuatu yang sangat jarang disadari adalah mengenai penghargaan terhadap hidup itu sendiri yang harus dilakoni sebelum kematian datang. Bagaimana pemikiran seseorang dalam memandang hidup menjadi titik tolak baginya sebelum menghargai hidupnya sendiri. Penghargaan terhadap hidup dimulai dari angapan-anggapan tentang hidup yang bisa datang dari mana saja; dari tokoh-tokoh yang diidolakan, dari lingkungan keluarga yang sangat dekat, dari guru-guru pada bidangnya masing-masing, dari orang-orang muda bersahaja, dari orang-orang tua berprestasi, atau bahkan dari orang-orang yang tidak dikenal sama sekali yang kebetulan melintas di hadapan kita, kemudian kita terinspirasi untuk memberikan sebuah anggapan terhadap hidup. Apapun itu, anggapan terhadap hidup memberikan arahan jalan selanjutnya untuk menjalani hidup. Tetap saja masih perlu diingat, bahwa semua anggapan tentang hidup selalu berujung pada sebuah kematian yang merupakan sebuah kepastian. Dan sekali lagi, bahwa kematian adalah sebuah kesakitan yang luar biasa.

Ketika telah diketahui kebenaran-kebenaran tentang sakitnya sebuah kematian, maka tentu tidak ada jalan lain bagi seorang manusia selain bahwa dirinya harus menghargai hidup, karena tidak ada seorangpun yang menghendaki sebuah kematian yang sia-sia. Penghargaan terhadap hidup memberikan peluang bagi seseorang untuk menjalani hidup secara lebih baik dan akan berlangsung secara terus-menerus. Dalam hal ini adalah penghargaan terhadap hidup yang menjadikan perjalanan hidup menjadi lebih baik. Dengan mengingat kematian, akan muncul kesadaran tentang misteri waktu ketika seseorang menjalani hidup. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti kapan seseorang akan didatangi oleh kematian kecuali sedikit orang. Dengan misteri tersebut, penghargaan terhadap hidup juga mengawali tindakan hati-hati bagi seorang manusia ketika berjalan melewati hidupnya.


Menghargai hidup melahirkan kenyataan hidup yang lain
Penghargaan terhadap hidup tidak akan muncul dari sikap pembangkangan seseorang terhadap segala kebenaran yang datang padanya. Seseorang tidak akan pernah menghargai hidup jika ia tidak mau membuka dirinya sendiri untuk sebuah kebenaran yang datang menghampirinya. Ia hanya melihat apa-apa yang tampak baginya sebagai sebuah kebenaran, kemudian ia merasa harus meyakininya, padahal sebenarnya ia buta terhadap kebenaran itu sendiri. Sebenarnya ia telah tertipu oleh dirinya sendiri dengan menganggap bahwa hati nuraninya adalah baik dan suci.

Dengan alasan hati nurani, banyak orang merasa telah berada di atas kebenaran, padahal sesunguhnya tidaklah selalu demikian, karena kebenaran itu bukan bersumber dari hati nurani tetapi bersumber dari Sang Khalik. Sang Khalik adalah satu-satunya sumber kebenaran. Adapun jika pada suatu tempat atau suatu ketika, Sang Khalik “menyisipkan” kebenaran itu pada hati nurani seorang manusia, maka seseorang harus menyadari bahwa kebenaran itu telah datang dari Sang Khalik dan bukan secara mutlak berasal dari hati nurani manusia. Hal ini mungkin saja terjadi karena Sang Khalik memang memiliki kekuasaan untuk membolak-balikkan hati manusia. Sebaliknya, seorang manusia tidak memiliki kekuasaan sedikitpun untuk menetapkan hatinya sendiri pada suatu keadaan tanpa pertolongan dari Sang Khalik. Hal ini memberikan kesadaran bagi seorang manusia untuk terus-menerus berdo’a agar hatinya senantiasa ditetapkan di atas kebenaran ketika menjalani hidup di dunia.

Kesadaran dalam menghargai hidup dapat terjadi kapan saja dan pada siapa saja. Hal ini mengandung pengertian bahwa kesadaran itu dapat terjadi pada orang-orang muda ataupun orang-orang tua. Ada yang sedari muda sudah menyadari ihwal penghargaan terhadap hidup, ada pula yang baru menyadarinya setelah melewati masa-masa tua. Kesadaran untuk menghargai hidup tidak selalu bergantung pada banyaknya waktu yang telah dilewati oleh seseorang dalam menjalani hidup. Kesadaran itu dapat terjadi kapan saja dan pada siapa saja. Namun alangkah indahnya, jika kesadaran tersebut sudah dimiliki oleh seseorang selagi ia masih muda. Dengan anggapan bahwa orang-orang muda masih memiliki waktu yang lebih panjang dalam menjalani hidup dibandingkan dengan orang-orang tua, meski anggapan tersebut tidaklah selalu benar. Dari sini, dapatlah dipahami bahwa kesadaran dalam menghargai hidup akan melahirkan kenyataan hidup yang lain, baik bagi satu orang manusia yang telah sadar maupun bagi banyak manusia lain yang berinteraksi dengan satu orang manusia tersebut.

Orang-orang muda yang sadar akan penghargaan terhadap hidup akan menjalani hidupnya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain. Orang-orang tua yang memiliki kesadaran yang sama, akan senantiasa bersyukur atas hidup yang telah dilewatinya. Keadaan selanjutnya setelah kesadaran menghargai hidup pada orang-orang muda dan orang-orang tua, adalah bahwa mereka akan memberikan andil yang amat besar bagi manusia lain yang berada di sekitarnya. Orang-orang muda tersebut akan selalu bekerja tanpa henti untuk kepentingan kehidupan manusia pada umumnya dan orang-orang tua akan senantiasa dijadikan idola yang mencerahkan bagi sebagian manusia lainnya. Kenyataan hidup yang lain yang benar-benar diidam-idamkan oleh sebagian besar manusia akan menjadi lebih cepat terwujud. Kenyataan tentang hidup yang memberikan rasa aman, tentram, nyaman dan sejahtera menjadi sesuatu yang tidak mustahil jika kesadaran menghargai hidup telah dimiliki. Bukan kenyataan tentang hidup yang selama ini memberikan tekanan dan rasa marah pada keadaan sekitar.


Menghargai hidup, menyambut kematian dengan arif
Setelah seseorang mampu untuk menghargai hidup niscaya ia akan lebih siap dan tenang ketika menghadapi kematian. Sebuah kematian tidak akan lagi dianggap sebagai sebuah tragedi yang menyakitkan, karena telah disadari bahwa apa-apa yang telah dilakukan selama hidup adalah sesuai dengan kebenaran dari Sang Khalik. Seseorang akan menjadi lebih arif ketika waktu kematian itu semakin dekat dan semakin disadari pula bahwa menghargai hidup merupakan sebuah kebenaran yang “disisipkan” oleh Sang Khalik pada hatinya. Ia akan rela terhadap rasa sakit yang menimpanya ketika kematian itu perlahan-lahan mendatanginya, karena disadari pula bahwa sebuah kehidupan datang dari Sang Khalik dan sebuah kematian juga datang dari Sang Khalik. Apabila semua tugas telah diselesaikan dengan baik dan segala kewajiban kepada Sang Khalik telah dilaksanakan dengan sempurna selama menjalani hidup di dunia, maka mungkin saja bagi sebagian manusia bahwa kematian itu merupakan rasa sakit yang menentramkan atau bahkan menyenangkan.


Wallahu’alam Wallahulmusta’an
Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan


Baca selanjutnya...

Memperhatikan Langkah Kita Sendiri

Pada Awalnya adalah Ingatan
Kalau saja setiap langkah dalam hidup kita dapat terekam dengan sangat jelas dan kemudian kita mampu untuk melihat rekaman tersebut kapanpun kita mau, niscaya kita akan menjadi seseorang yang sangat berhati-hati di dalam menjalani setiap inchi kehidupan ini. Betapa sebuah perekaman yang kemudian dapat terperhatikan dengan seksama selalu mampu memberikan fakta-fakta baru yang mencerahkan. Lebih dari itu, tindakan yang kemudian hendak diambil pun akan terasakan lebih mantap dan menguatkan. Sayangnya, kita hanya mampu mengingat sebagian saja dari apa-apa yang telah kita lalui. Dan parahnya lagi, ingatan akan sesuatu yang tidak baik seringkali malah mendominasi langkah-langkah perjalanan hidup kita ke belakang.

Telah dipahami dengan sangat baik oleh seluruh manusia yang sehat, bahwa kepingan-kepingan ingatan ternyata tidak selalu berada dalam keadaan yang sehat dan mudah terakses oleh manusia itu sendiri. Kadangkala didapati sebuah kepingan yang rusak seluruhnya, kadang pula rusak sebagian dan sebagian lainnya baik-baik saja, ada lagi yang mendapati bahwa kepingan-kepingan tersebut tingkat kerusakannya bergantung pada waktu-waktu tertentu yang dilalui. Misalnya, ketika seseorang menemui sesuatu yang sangat familiar pada malam hari, ia mendapati kepingan-kepingan ingatan yang berhubungan begitu erat dengan suasana malam hari yang tidak dapat ia hapuskan. Hal ini tidak terjadi pada semua orang, tetapi setidaknya kita telah mampu mengenali bahwa kepingan-kepingan ingatan merupakan sesuatu yang patut untuk diberikan perhatian serius oleh seseorang yang tengah menjalani kehidupannya di dunia ini.

Ratusan bahkan ribuan orang di dunia ini mempelajari bagaimana kepingan-kepingan ingatan ini dapat bekerja, bagaimana ia memulai dan bagaimana ia berakhir, bagaimana kepingan-kepingan ini mengalami evolusi seiring perjalanan peradaban manusia itu sendiri; dilihat dari hasil teknologi yang terciptakan pada saat-saat tersebut yang lalu memberikan informasi pada peradaban manusia setelahnya, bagaimana kepingan-kepingan ingatan tersebut mampu bertahan pada diri seorang manusia dan berapa banyak kepingan tersebut masih dapat ditampung, bagaimana pula mempelajarinya dari bidang-bidang ilmu pengetahuan berbeda yang sedang berkembang, lalu bagaimana pula analogi yang digunakan sehingga sampai pada interaksinya terhadap apa yang dilakukan oleh masing-masing bidang ilmu pengetahuan yang berbeda-beda tersebut di dalam mempelajari kepingan-kepingan ingatan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut belumlah sepenuhnya terjawab, namun langkah-langkah riset dan penelitian memberikan kemajuan yang berarti.

Semua hal di atas dilakukan untuk mengetahui siapa diri kita sendiri, konsep kita tentang siapa diri kita. Sampai-sampai sebagian kita kemudian berpikir tentang peluang dan kesempatan revolusi dari digital atas riset dan penelitian dalam hal kepingan-kepingan ingatan tersebut. Hal ini berangkat dari pengetahuan tentang manusia dan kepingan-kepingan ingatan tersebut yang pada akhirnya memunculkan penerapannya yang ambisius pada suatu penemuan di masa mendatang.


Terbentur pada Kaidah-kaidah Kemanusiaan Lainnya
Beberapa gelintir manusia lainnya selalu memandang bahwa kepingan-kepingan ingatan adalah merupakan salah satu anugerah dari Sang Pencipta yang diberikan pada salah satu makhluk-Nya, yakni manusia sebagai salah satu makhluk hidup yang mendiami dunia ini. Terdapat dalil yang menyebutkan bahwa ingatan merupakan keistimewaan yang diberikan oleh Sang Khalik kepada sebentuk manusia. Manusia diperintahkan oleh Sang Khalik untuk menjaga ingatan tersebut dengan baik melalui perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan perintah-Nya dan dengan meninggalkan segala larangan-Nya. Kemudian manusia pun ditugaskan oleh Sang Penguasa Alam Semesta untuk selalu mengingatkan manusia lainnya dengan senantiasa mengingat-Nya melalui pengertian perintah dan larangan tersebut. Kepingan-kepingan inilah yang dituntut untuk selalu dijaga dan dipertahankan, mengingat Sang Pencipta.

Pada kesempatan yang lain, Sang Khalik mengancam bahwa seorang manusia dapat saja kehilangan segala kepingan-kepingan ingatannya pada saat manusia tersebut mencapai usia yang sudah tidak muda lagi. Bahwa Sang Pencipta memiliki hak yang luar biasa untuk "mencabut" segala kepingan ingatan yang pada awalnya dimiliki oleh seorang manusia, merupakan kekuasaan mutlak dari Sang Pencipta itu sendiri. Peringatan semacam ini telah kita temui pada beberapa masa dalam kehidupan kita, jika kita secara sadar memerhatikan apa-apa yang senantiasa terjadi pada orang-orang yang telah lebih dulu menjadi lebih berumur daripada kita.

Keberadaan kaidah-kaidah yang bersifat agamawi acapkali berbenturan dengan riset-riset dan penelitian-penelitian dalam bidang ilmu pengetahuan. Riset dan penelitian "membutuhkan" keberanian dan keterbukaan dalam penerimaan logika yang terbentuk setelahnya, di sisi lain kaidah-kaidah agamawi juga membutuhkan keberanian untuk mempertahankan kebenaran atas ajaran-ajaran Sang Pencipta. Benturan keduanya sangat mungkin terjadi dan sangat mungkin pula untuk tidak terjadi sama sekali. Dan, ketika benturan terjadi, pilihanlah yang acapkali menjadi penentu. Juga tidak boleh dilupakan bahwa kepercayaan kepada Sang Pencipta di dalam diri seorang manusia tidaklah sama kadarnya pada masing-masing manusia itu sendiri. Itu berarti, "perlakuan" Sang Pencipta pun tentu tidak akan sama kadarnya pada masing-masing manusia. 


Titik Temu Ilmu Pengetahuan dan Kaidah-kaidah Sang Pencipta
Kita semestinya telah dapat menemukan sendiri "titik pertemuan" tersebut. Lebih dari sekedar pengamatan satu atau dua hari, ilmu pengetahuan sebagai pencapaian seorang manusia atau kaidah-kaidah agamawi sebagai tuntunan kehidupan manusia, seharusnya melahirkan sebuah kontemplasi yang pada akhirnya mencerahkan bagi manusia itu sendiri, bukan malah memburamkan segala pengertiannya pada tataran ahli maupun awam. Aspek lingkungan dan sifat individu yang mau membuka diri dengan sangat hati-hati terhadap segala perubahan di dalamnya adalah benar-benar perlu untuk diperhatikan. Agar jangan sampai nantinya seseorang terjebak pada salah satu pilihan yang sebenarnya merugikan manusia itu sendiri.

Kalau saja kepingan-kepingan ingatan tersebut dimanfaatkan untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari pada ingatan itu sendiri, niscaya kita akan berani untuk melupakan segala rasa sakit maupun rasa senang yang kita dapatkan dari perjalanan kita selama hidup di dunia ini, untuk kemudian hanya memikirkan dan lebih berani untuk mengingat kematian. Karena kematianlah pemutus segala kepingan-kepingan ingatan yang sangat ingin kita susun dengan rapih namun ternyata tetap hancur juga dengan kematian. Itulah sebuah pencapaian yang mencerahkan jika seorang manusia dengan mata dan hati yang terbuka, bersedia untuk selalu memerhatikan langkahnya sendiri. 






Bahan Bacaan
http://www.memoriesforlife.org/about.php


Wallahu'alam Wallahulmusta'an.
Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
22 Juli 2009.

Baca selanjutnya...

About

muhadzis
Ever been very fond for outdoor activities, had been desperately in acting practices, had written poems, and had finished degree in medical physics ... today, honestly I just want to be a servant of the most loved by Allah 'Azza wa Jalla. Amen.
Lihat profil lengkapku

Twitter Updates

    follow me on Twitter